Sabtu, 26 November 2011

Penanda Digital (Digital Signature)


[Applied Cryptography, Bruce Schneier. Ch.2 p.34-41]
 
Syarat sebuah signature:
  1. Signature adalah otentik. Tanda akan meyakinkan si penerima dokumen bahwa si pemberi tanda dengan sengaja telah menandai dokumen tersebut.
  2. Signature tidak dapat dipalsukan. Tanda membuktikan bahwa si penanda telah dengan sengaja menandai dokumen.
  3. Signature tidak dapat dipergunakan ulang. Tanda merupakan bagian dari dokumen; orang lain tidak dapat memindahkan tanda ke dokumen yang berbeda.
  4. Dokumen yang ditandai tidak dapat diubah-ubah. Setelah dokumen diberi tanda, maka dokumen tersebut tidak dapat diubah.
  5. Signature tidak bisa disangkal. Tanda dan dokumen memiliki wujud fisik. Si penanda tidak dapat menolak bahwa ia tidak menandai dokumennya.

Penandaan dokumen dengan kriptosistem simetris dan seorang arbitrator

Alice dan Bob akan bertukar pesan. Trent adalah arbitrator, orang yang dipercaya oleh keduanya. Trent memberikan kunci rahasia, KA, kepada Alice, dan kunci rahasia berbeda , KB, kepada Bob. Kedua kunci tersebut telah dibuat jauh sebelum protokol dimulai, dan dapat digunakan ulang untuk beberapa kali penandaan. Skemanya adalah sebagai berikut:

  1. Alice mengenkripsi pesannya untuk Bob dengan kunci KA dan mengirimkannya pada Trent.
  2. Trent mendekripsi pesan Alice dengan KA.
  3. Trent mengambil pesan hasil dekripsi beserta pernyataan bahwa ia telah menerima pesan tersebut dari Alice, keduanya menjadi satu bundle. Kemudian Trent mengenkripsi bundle tersebut dengan KB.
  4. Trent mengirimkan bundle terenkripsi kepada Bob.
  5. Bob mendekripsi bundle menggunakan KB. Sekarang ia dapat membaca pesan dari Alice dan sertifikat dari Trent bahwa pesan itu adalah benar dikirim oleh Alice.

Jika Bob ingin memperlihatkan dokumen, yang telah ditandai Alice, kepada Carol, maka Bob tidak boleh memberitahu kunci rahasianya. Ia harus menghubungi Trent terlebih dahulu:

  1. Bob mengambil pesan dan pernyataan Trent bahwa pesan tersebut berasal dari Alice. Kemudian ia mengenkripsinya dengan KB, dan mengirimkan kembali bundle itu kepada Trent.
  2. Trent mendekripsi bundle dengan KB.
  3. Trent memeriksa database-nya dan mengkonfirmasi bahwa pesan aslinya memang berasal dari Alice.
  4. Trent mengenkripsi ulang bundle menggunakan kunci rahasia yang ia bagi kepada Carol, yaitu KC, dan mengirimkannya kepada Carol.
  5. Carol mendekripsi bundle menggunakan KC. Sekarang ia dapat membacanya keduanya, pesan dari Alice dan sertifikat dari Trent bahwa Alice yang telah mengirimkan dokumen itu.

Kelemahan dari sistem ini adalah arbitrator akan menghabiskan banyak waktu dengan enkripsi-dekripsi pesan, menjadi penengah dari setiap pihak yang akan bertukar dokumen, dan save-restore pesan dari dan ke database. Akibatnya, arbitrator akan menjadi bottleneck dari semua sistem komunikasi.

Pohon Penanda Dijital (Digital Signature Trees)

Ide dasar dari skema ini adalah menempatkan root pada suatu dokumen publik, root telah terotentikasi. Root menandai suatu pesan dan mengotentikasi sub-node di bawahnya. Setiap node tersebut menandai pesan, yang telah ditandai oleh root, dan mengotentikasi sub-node di bawahnya, dan begitu seterusnya.

Penandaan dokumen dengan Kriptografi Kunci Publik

Dasar protokolnya cukup sederhana:

  1. Alice mengenkripsi dokumen dengan kunci privatnya, dengan demikian ia telah menandai dokumen tersebut.
  2. Alice mengirimkan dokumen yang telah ditandai kepada Bob.
  3. Bob mendekripsi dokumen dengan kunci publik Alice, sehingga ia telah memverifikasi tanda tersebut.

Protokol ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Trent tidak diperlukan lagi untuk menandai maupun memverfikasi signature. Namun ia dibutuhkan untuk memberikan sertifikasi bahwa kunci publik Alice adalah memang kunci publik miliknya.

Penandaan dokumen dan timestamps (penanda waktu)

Sebenarnya Bob dapat mencurangi Alice pada keadaan tertentu. Ia dapat menggunakan ulang dokumen dan tandanya secara bersamaan.

Katakanlah Alice mengirimkan Bob sebuah cek dijital yang telah ditandai, senilai $100. Bob membawa cek tersebut ke bank, yang akan memverifikasi tanda dan memindahkan uang dari rekening Alice ke rekening Bob, sebesar $100. Bob membuat salinan dari cek dijital tersebut. Minggu berikutnya Bob membawa cek tersebut ke bank. Bank akan memverifikasi tanda dan kembali memindahkan uang Alice, dengan nilai yang sama tentunya, ke rekening Bob. Jika Alice tidak pernah memeriksa uang di rekeningnya, maka Bob akan dapat melakukan penarikan uang berkali-kali hingga habis.

Untuk mengatasinya, penanda dijital seringkali menyertakan timestamp. Tanggal dan waktu penandaan dilampirkan pada pesan. Bank menyimpan timestamp di database. Sekarang, saat Bob mencoba mencarikan uang dari cek untuk kedua kalinya, maka bank kemudian akan memeriksa timestamp di  database-nya dan menemukan bahwa cek tersebut telah dicarikan sebelumnya.

Penandaan dijital dengan kriptografi kunci publik dan fungsi hash satu arah

Pada penerapannya, algoritma kunci publik seringkali tidak begitu efisien untuk menandai dokumen-dokumen yang panjang. Untuk menghemat waktu, protokol penandaan dijital seringkali diterapkan dengan fungsi hash satu arah.

  1. Alice membuat sebuah hash satu arah dari suatu dokumen.
  2. Alice mengenkripsi hash dengan kunci privatnya, dengan demikian ia telah menandai dokumen.
  3. Alice mengirimkan dokumen dan hash, yang telah ditandai (hash tertanda), kepada Bob.
  4. Bob membuat hash satu arah dari dokumen yang dikirimkan Alice. Ia kemudian mendekripsi hash tertanda dengan kunci publik Alice. Jika hash tertanda tersebut cocok dengan hash yang ia buat, maka penandanya sah.

Protokol ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, tanda dapat disimpan terpisah dari dokumen. Kedua, media penyimpanan,  yang dibutuhkan oleh si penerima untuk menyimpan dokumen dan tanda, jauh lebih kecil.

Algoritma dan terminologi

Terdapat banyak algoritma penanda dijital. Semuanya merupakan algoritma kunci publik dengan informasi rahasia untuk menandai dokumen, dan informasi publik untuk menverifikasi tanda. Kadang proses penandaan disebut enkripsi dengan kunci privat, dan proses verifikasi disebut sebagai dekripsi dengan kunci publik. Ini adalah kesalahpahaman dan hanya benar untuk satu algoritma saja, yaitu RSA. Sedangkan algoritma lain memiliki implementasi berbeda. Sebagai contoh, fungsi hash satu arah dan timestamps kadang kala memasukkan langkah tambahan ke dalam proses penandaan dan verifikasi. Banyak algoritma dapat digunakan untuk  penandaan digital, tapi tidak untuk enkripsi.

Pada umumnya, penulisan proses penandaan dan verifikasi tidak disertai dengan detail dari algoritma yang terlibat di dalamnya. Penandaan suatu pesan dengan kunci privat K adalah:
SK(M)
dan verifikasi suatu tanda dengan kunci publik pasangannya adalah:
VK(M)

Serangkaian kecil string yang dilampirkan ke dokumen saat ditandai disebut sebagai penanda dijital (digital signature), atau hanya tanda (signature) saja. Pada protokol di atas, proses meyakinkan si penerima pesan mengenai identitas pengirim dan keutuhan dari pesan itu sendiri disebut sebagai otentikasi.

Nonrepudiation dan penanda dijital

Alice bisa saja curang dengan penandaan dijital dan tidak ada yang dapat dilakukan terhadap hal seperti itu. Ia dapat menandai suatu dokumen dan kemudian ia menyatakan tidak pernah melakukannya. Pertama, ia menandai dokumen seperti biasa. Kemudian ia secara tidak diketahui telah menyebarkan kunci privatnya sendiri, atau dengan tidak disengaja ia menghilangkan kunci privatnya di tempat umum, atau ia hanya berpura-pura melakukan salah satu aksi dari kedua-duanya. Alice kemudian mengklaim bahwa ia sering mencurigai tanda-nya sendiri dan ada orang lain yang menggunakannya. Ia menyangkal penandaan pesan dan segala dokumen apapun itu yang ditandai menggunakan kunci privatnya. Ini dinamakan repudiation (penolakan).

Timestamps dapat membatasi dampak dari jenis kecurangan seperti itu, tapi Alice dapat selalu menyatakan bahwa kuncinya telah diragukan dari awal. Jika Alice sering berkata seperti itu, maka suatu saat ia dapat menandai dokumen dan mengklaim bahwa ia tidak melakukannya. Pada akhirnya Alice tidak dapat mengotentikasi dirinya sendiri dan menyalahgunakan kunci privatnya.

Aplikasi penandaan dijital

Salah satu penerapan dari penandaan dijital adalah menfasilitasi proses verifikasi perjanjian larangan tes nuklir. Amerika Serikat dan Uni Soviet saling mengizinkan untuk menyimpan alat seismometer di atas tanah di negara yang telah ditentukan (host nation) untuk memantau tes nuklir. Permasalahannya adalah setiap negara perlu menjamin bahwa host nation tidak merusak data dari alat pengamatan seismometer. Di waktu yang bersamaan, host nation juga perlu menjamin bahwa alat seismometer hanya mengirimkan informasi spesifik saja yang dibutuhkan untuk kegiatan pemantauan. 

Teknik otentikasi konvensional dapat memecahkan masalah pertama, tapi hanya digital signatures saja yang dapat menyelesaikan kedua permasalahan di atas. Host nation dapat membaca data dari seismometer, tapi tidak dapat mengubahnya, dan negara pemantau mengetahui bahwa data yang mereka terima tidak rusak.

Rabu, 14 September 2011

Nikah Part.2


Aku tidak hendak mengeluh disini kawan, cukup aku rasakan bahwa keluh kesah itu tidak enak, lemah, tak bersahaja, dan apalah itu segala kata-kata dari JS. Badudu. Kali ini aku akan menghina dan mencibir orang saja. Bolehlah kiranya manusia melepaskan segala apa yang dirasanya selagi itu membuat hatinya lega untuk beberapa saat. Sudah, cukup..selagi hatiku sedang dengki aku tidak ingin menunggunya berubah menjadi malaikat. Aku mulai saja.

Katakanlah aku adalah manusia paling benar di seluruh dunia, dan berhak mencibir siapapun atas tingkah laku dan kebiasaannya. Maka akan ada banyak sekali kata-kata pada catatanku ini. Baiklah akan kupersempit menjadi satu cerita saja yang tidak bisa tidak untuk dibicarakan, yang mana bila tidak diungkapkan maka akan menyebabkan lidah ini gatal. Kawan, Ini adalah cerita soal tetangga kost-ku yang baru beberapa bulan menikah.

Tetangga kamarku ini kawan, beberapa bulan lalu adalah seorang bujang yang baik hatinya, tidak banyak tingkah, dan bersahaja. Hanya saja dia orangnya pendiam dan pasif. Mungkin, jika ia terdampar di sebuah pulau dengan seorang gadis cantik nan molek pun hingga 10 tahun ke depan di pulau itu hanya tetap berdua saja, tidak ada tambahan manusia baru. Umurnya sudah lebih dari cukup untuk menikah, sejauh yang kudengar ceritanya dari kawan sekamarnya yang juga kawanku adalah bahwa ia telah mencari beberapa calon pasangan sebagai pendamping hidup. Aku sendiri baru sekali melihatnya membawa teman wanitanya ke kosan. Kupikir gadis itu yang akan menjadi istrinya, ternyata bukan. Singkat cerita, dapatlah ia gadis yang menurutnya cocok sebagai isterinya. 

Kawinlah ia di rumah mempelai wanita. Sayangnya saat itu aku tidak hadir dan tidak pula memberinya kado pernikahan, itulah aku tidak tahu malunya sebagai tetangga. Padahal saat itu aku pun sedang berada di kota yang sama dengannya. Kemudian kawanku ini membawa isterinya tinggal di kosan kami. Kamar mereka dan kamarku hanya dipisahkan oleh sebilah tripleks tipis saja. Disinilah letak permasalahannya kawan, aku sangat gemas dan kesal. Kau, kawan, dan seluruh dunia mesti tahu bahwa yang namanya pengantin baru mutlak untuk melakukan kegiatan bersama yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang spesies manusia agar tidak punah. MENGINGAT pasangan muda adalah pasangan penuh gairah, MENIMBANG bahwa  energi diantara kedua belah pihak masih sangat besar karena berada pada usia produktif, maka MEMUTUSKAN aktifitas itu mutlak dilakukan dalam suasana penuh cinta dan gairah. Tapi, apa yang terjadi kawan??

Sedikitpun aku tidak mendengar suara-suara tidak disengaja yang berasal dari perpaduan dua primata itu. Sebagai tetangga nakal, aku sangat kecewa kawan. Sangat kecewa. Kalo begitu, apa saja yang mereka lakukan selama ini jika tidak terdengar suara-suara itu. Padahal aku sudah membuat rencana jauh sebelum mereka menikah, dan aku membayangkan setiap malam pasti akan mendapat sajian program acara dewasa dari “siaran radio” secara live. Aku patut curiga kawan, sangat curiga kalau-kalau tetangga kamarku ini tidak mengenal fertilisasi waktu sekolahnya dulu. Atau bisa jadi dia sedang bercanda dengan temannya saat guru biologi menerangkan bab tentang alat reproduksi pada manusia. 

Ahh..cukup sudah aku membicarakan tetanggaku yang satu itu, aku lelah menanti program acaranya. Kusudahi saja ceritaku untuk malam ini.

Jumat, 08 Oktober 2010

KRL

Pekerjaanku adalah pekerjaan yang sering dicibir orang. Tapi anehnya setiap pembukaan lowongan pekerjaan tersebut, para penghina itu atau mungkin anak-anak, saudara, dan relasi dari penghina itu berduyun-duyun mengirimkan surat lamarannya. Jika mereka ditolak, makin nyaringlah cacian mereka akibat kekesalan yang terakumulasi. Sebaliknya jika mereka diterima maka lupalah ia dengan semua caciannya, sekalipun mereka ingat maka akan diendapkannya perkataan itu di dalam hati. Banyak yang ingin kuceritakan tentang pekerjaanku ini. Tapi nanti saja, bukan itu yang ingin kutulis hari ini. Tapi soal kendaraan ajaib yang merupakan laboratorium uji sifat manusia. Kenapa kukatakan demikian, mestilah ada alasannya. Sifat asli seseorang akan muncul bila ia sudah merasakan naik kendaraan ini minimal satu bulan, untuk beberapa orang yang ’agak’ sabar mungkin perlu tiga bulan. Kau mesti tau, kendaraan apa itu?

Ketika masa awal aku mulai bekerja di Jakarta, aku berangkat kerja pukul 6.30 pagi untuk mengejar KRL Ekonomi yang berangkat pukul 07.02 dari Stasiun Bogor. Kereta ini, jika tidak ada negara seperti negara kita tercinta ini yang mau menampungnya, mungkin oleh perusahaan pembuatnya sudah dilebur dan dibentuk menjadi barang lain. Wajan barangkali, itu pun jika ada pengrajinnya di sana. Pengrajin yang jorok, tipikal khas orang kita. Distributor yang membelinya pun adalah perusahaan yang cari untung semata yang peduli setan dengan kesehatan manusia, itu pun tipikal khas orang kita pula. Kau tahu pembeli dari wajan itu siapa? Perusahaan importir dari negara kita, jajaran direksinya adalah asli orang kita. Tentu kau bisa tahu siapa pembelinya, orang-orang kaya naif dan miskin naif. Tak perlu lah aku jelaskan pengertiannya, cukup aku dan Tuhan, kau tidak. Terakhir, siapa yang memakan masakan dari wajan itu? Aku, kau, dan orang miskin asli.

Setiap kali naik KRL ekonomi, jarang sekali aku mendapatkan tempat duduk. Kursi fiber glass berwarna oranye yang satu sama lain saling menyatu itu, dan sebenarnya satu kesatuan, menjadi sangat mahal nilainya. Hanya mereka dengan perjuangan lebih lah yang layak mendudukinya. Betul apa kata presiden dalam setiap pidato tujuh belasan, berjuang dapat dilakukan dalam berbagai bentuk karena perjuangan sendiri adalah jiwa, spirit, dan abstrak yang dapat menyusup menjadi motivasi untuk bertindak. Indah betul kalimat itu. Begitupun perjuangan penumpang kereta ini, dapat dilakukan dalam berbagai cara dan bentuk. Cara paling lazim adalah langsung berebut tempat duduk sesaat sebelum kereta berhenti sempurna, bahkan sebelum penumpang di dalam keluar dari kereta. Ini mengingatkanku pada permainan anak-anak yang saling memperebutkan tempat duduk, dimana jumlah kursi kurang dari jumlah anak. Beberapa orang yang sudah duduk sering meletakkan tas atau barang-barang lain di kursi sampingnya yang kosong, setiap kali orang lain hendak duduk di kursi tersebut ia berkata, ”ini sudah ada orangnya!”. Kau tahu, tipe penumpang seperti ini yang paling aku benci. Aku menyebut cara itu sebagai tagging seat method, dan sepertinya layak dijadikan algoritma untuk optimisasi. Licik sekali, seakan mereka membayar lebih dan kenal betul dengan menteri perhubungan.

Perjuangan lainnya adalah memanfaatkan teman yang berlawanan arah perjalanan, ini melibatkan konspirasi tingkat tinggi dan teknologi komunikasi. Sesaat sebelum kedatangan kereta di Stasiun Bogor, katakanlah masih di Stasiun Cilebut atau Bojong Gede, calon penumpang dari Bogor menelepon kawannya yang berada di kereta tersebut agar memastikan untuk mendapatkan tempat duduk. Ia meminta informasi urutan gerbong ke berapa dan dekat pintu yang mana. Untuk penumpang tingkat ahli dan lanjut, informasi seperti itu tidak diperlukan karena sudah ada aturan tak tertulis yang berawal dari kebiasaan. Ketika kereta tiba di Stasiun Bogor, maka si calon penumpang nan licik ini tidak perlu bersusah payah berdesak-desakan mendapatkan kursi. Cukup mencari lokasi gerbong temannya dan rencana busuk pun berjalan sempurna. Sungguh biadab!

Ini yang terakhir, aku menyebutnya Bohemian Passengers. Mereka adalah kaum yang menghendaki kebebasan mutlak, mutlak dalam arti menistakan kenegatifan sehingga semuanya terlihat positif baginya, tapi tidak bagi orang lain. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang berani, menghargai kehendak sendiri tanpa mempedulikan batasan-batasan formal. Kadang penghargaan itu terlalu berlebihan sehingga melahirkan keangkuhan. Penghargaan itu sering juga muncul dengan motivasi keterpaksaan dari ketiadaan pilihan. Kadang kala aku menyebut mereka sebagai manusia informal. Kau tahu siapa mereka? Penumpang yang duduk di atap gerbong kereta. Keberanian mereka seakan sirna begitu saja ketika hukum fisika menghempaskannya ke tanah berbatu. Perpaduan gaya gravitasi dan gaya akibat laju kereta menarik paksa berat badan mereka karena tidak diimbangi gaya gesekan yang besar di bidang miring tepian atap gerbong. Biasanya ibu-ibu mereka, bagi yang masih punya ibu, akan menangis histeris sejadi-jadinya. Kadang kala ibunya menyesali sesuatu yang tidak tepat. Newton tidak bisa disalahkan atas hukum-hukumnya, begitupun alam hanya bekerja menurut tugasnya, ahh aku tidak bisa meneruskan kalimat ini untuk subjek masinis dan petugas keretanya.

Senin, 24 Mei 2010

Knowledge Sharing: Sistem Informasi Manajemen Zakat dan Infak (SIMAZI)

Knowledge Sharing yang dibuat berdasarkan sistem informasi yang dibuat oleh kelompok kami, yaitu sistem informasi masjid untuk zakat dan infak (SIMAZI) yang dikembangkan oleh kelompok 7:

Yogi Pranoto G64086049
Ryan Sapta Nopa G64086056
Panji Adhie Mustofa G64086017
Muhammad Irfansyah G64086046
Ayu Gustiawati G64086034
Walim Abdul Somad G64086044

Sistem informasi masjid untuk zakat dan infak (SIMAZI) adalah suatu sistem informasi yang menangani pengelolaan dana zakat, infak, dan dana masjid yang dihimpun dari masyarakat dan disalurkan kembali kepada masyarakat. Data yang dapat diperoleh dari sistem informasi manajemen amil zakat dan infak adalah sebagai berikut:

  • rekapitulasi data kemiskinan
  • rekapitulasi data orang yang menerima zakat (mustahiq)
  • rekapitulasi orang yang mengeluarkan zakat (muzakki)
  • rekapitulasi penerimaan/penyaluran zakat dan infak
  • rekapitulasi penerimaan/penyaluran dana masjid

Sehingga, knowledge yang dapat digali dari data-data tersebut adalah:
  1. Informasi pemetaan masyarakat miskin berdasarkan klasifikasi tingkat kemiskinannya. Masyarakat miskin dapat dikelompokkan menurut pekerjaan, rasio penghasilan dan pengeluaran per bulan, tingkat pendidikan, tempat tinggal.
  2. Bentuk dana yang tepat yang harus disalurkan kepada masyarakat miskin berdasarkan hasil analisa kebutuhan mereka. Apakah berupa dana cair, modal usaha, beasiswa, bahan pangan, pakaian, atau tempat tinggal.
  3. Pelatihan dan kursus keterampilan khusus yang sesuai untuk masyarakat miskin agar dapat berkarya dan mampu menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.
  4. Pemetaan wilayah dengan sebaran muzakki mulai dari yang tertinggi hingga terendah. Dari pemetaan muzakki tersebut bisa diambil kebijakan untuk menyediakan layanan-layanan yang dapat disediakan untuk memudahkan para muzakki di wilayah tersebut untuk membayar zakat, sedangkan untuk wilayah dengan muzakki yang rendah dapat dilakukan promosi, seminar, dan iklan agar menarik lebih banyak muzakki.
  5. Dari kecenderungan kenaikan jumlah masyarakat miskin, dapat diambil langkah tertentu untuk menghimpun muzakki sebanyak mungkin.
  6. Dapat menentukan apakah seorang mustahiq itu termasuk ke dalam golongan (asnaf) miskin atau fakir, dari rekap data mustahiq yang tersedia.
Knowledge yang sudah diterapkan :

Knowledge yang diterapkan dalam sistem ini di dapat dari knowledge BAZ kota Bogor dalam penentuan mustahiq apakah mustahiq itu masuk ke dalam asnaf miskin (terdapat beberapa grade) , fakir atau tidak termasuk mustahiq.
aspek-aspek yang dilihat dalam penilaian dalam penentuan asnaf yaitu :
  • kemampuan bekerja
  • penghasilan per bulan
  • pengeluaran per bulan
  • kepemilikan aset primer (rumah dan tanah)
  • kepemilikan aset skunder (barang elektronik, kendaraan dll.)
Informasi tambahan.

    Minggu, 02 Mei 2010

    Ulasan Topik Skripsi

    Dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah Metode Penelitian dan Telaah Pustaka, maka berikut saia sampaikan ulasan singkat 5 buah skripsi mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer, FMIPA IPB, yang diambil dari website IPB Information Resource Center.

    Judul Skripsi : Algoritme Segmented Dynamic Time Warping
    Penulis : Agus Pudjijono
    Tahun : 2004
    Tujuan : mengukur algoritme SDTW dalam melakukan proses pencarian dokumen audio berupa lagu berdasarkan informasi yang ada di dalam lagu tersebut
    Metode : menghitung nilai vektor amplitudo dari informasi potongan lagu yang akan dicari dan mencocokannya dengan nilai vektor amplitudo dari kumpulan lagu yang ada. Jika ada yang sesuai, maka dokumen lagu tersebut merupakan hasil pencariannya. Penghitungan nilai vektor amplitudo menggunakan SDTW yang dapat meringkas elemen vektor, dan membandingkan hasil perhitungan dengan metode lainnya yaitu DTW.
    Hasil : percobaan dilakukan sebanyak 15 kali. Hasilnya, dalam satu kali proses segmentasi, waktu eksekusi rata-rata yang dibutuhkan oleh algoritme SDTW dalam melakukan satu kali proses segmentasi adalah lebih cepat 29 kali lipat dibandingkan dengan DTW. Dari 15 kali percobaan yang dilakukan pada iterasi-iterasi optimum, hasil temu kembali yang relevan berada pada posisi 5 besar. Ini dapat dikatakan baik karena perbandingan antara jumlah dokumen relevan yang terpanggil dengan jumlah percobaan mencapai 60%.
    Link : http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/1955



    Judul : Perbandingan Algoritma Huffman Statik dengan Algoritma Huffman Adaptif pada Kompresi Data Teks
    Penulis : Danny Dimas Sulistio
    Tahun : 2004
    Tujuan : mempelajari dan membandingkan unjuk kerja dari algoritma Huffman Statik dan algoritma Huffman Adaptif pada kompresi data.
    Metode : membandingkan kompresi file menggunakan kedua algoritma dengan kriteria berikut: rasio kompresi, waktu yang diperlukan untuk mengompresi file, dan lamanya waktu yang diperlukan untuk mendekompresi file menjadi seperti semula. Inputnya berupa 3 macam file teks (*.txt) yang terdiri dari file teks yang berasal dari potongan artikel, file teks dengan satu variasi karakter, dan file teks dengan 5 dan 256 variasi karakter.
    Hasil : waktu iterasi yang diperlukan untuk mengompresi file pada algoritme Huffman Statik adalah lebih kecil dibandingkan dengan algoritme Huffman Adaptif. Akan tetapi, unjuk kerja kompresi file yang dilakukan algoritme Huffman Adaptif terbukti lebih baik dari algoritme Huffman Statik.
    Link : http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/2502

    Judul : Pembangunan Sistem Informasi Tingkat Keanekaragaman Tumbuhan Vegetasi (Studi Kasus di Taman Nasional Way Kambas)
    Penulis : Dhyana Nur
    Tahun : 2004
    Tujuan : mengembangkan sistem yang dapat melakukan perhitungan beberapa parameter kuantitatif vegetasi dan tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan vegetasi di habitat tertentu.
    Metode : pembuatan sistem informasi dengan menggunakan metode Siklus Hidup Sistem (System Life Cycle) dan indeks Shannon untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan. Akuisisi data dilakukan dengan teknik langsung di TNWK.
    Hasil : sistem informasi ini memiliki fungsi utama: input data, lihat data hasil pengolahan, dan fungsi cari data di peta. Data masukannya berupa lokasi tumbuhan, waktu survey, jumlah petak contoh, nama lokal tumbuhan, diameter tumbuhan, dan nomor petak tumbuhan. Keluarannya adalah nilai parameter kuantitatif vegetasi, yaitu kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif, indeks nilai penting, dan indeks tingkat keanekaragaman. Semua data disimpan dalam basis data dan untuk hasil keluaran dapat dicetak. Berdasarkan pengujian dengan metode Black Box, sistem dapat berjalan dengan baik.
    Link : http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/2363

    Judul : Sistem Informasi Kepariwisataan (Studi Kasus Propinsi Banten)
    Penulis : Esi Hisnaina
    Tahun : 2004
    Tujuan : untuk mendukung promosi kepariwisataan Propinsi Banten
    Metode : pembangunan sistem dilakukan dengan menggunakan metode System Development Life Cycle (SDLC). Terdiri dari 4 fase, yaitu perencanaan, analisis, desain, dan implementasi
    Informasi yang ditampilkan meliputi profil umum, kota dan kabupaten, dan objek pariwisata di Provinsi Banten.

    Fasilitas pencarian pada sistem menggunakan metode pengindeksan berbasis teks, dan metode pencarian pada tabel basis data. Basis datanya dibangun menggunakan model basis data relasional yang melibatkan 20 tabel yang terlebih dahulu dilakukan normalisasi tingkat 3.

    Objek pariwisata sendiri dibagi menjadi 3 berdasarkan jenis tujuan wisata, yaitu wisata minat khusus, kesenian dan budaya, serta penunjang kegiatan pariwisata (paket wisata, akomodasi, rumah makan, transportasi, dan agen wisata).

    Hasil : sistem dapat berjalan pada server yang menyediakan Microsoft Indexing Service dan dapat diakses pada komputer dengan browser yang mendukung Java.
    Link : http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/2303

    Judul : Pemodelan Simulasi HTTP Traffic Jaringan Komputer Lokal
    Penulis : F. X. Bayu Cahyo Raharjo
    Tahun : 2004
    Tujuan : mengetahui hubungan penambahan jumlah pengguna terhadap utilisasi bandwidth ke internet
    Metode : memodelkan sistem traffic aplikasi HTTP pada suatu jaringan komputer lokal menjadi sebuah model simulasi, untuk menguji hipotesis bahwa kinerja server proxy tidak hanya bergantung pada algoritma pertukaran objek melainkan juga terhadap pengguna proxy dan bandwidth ke internet. Input untuk simulasi tersebut berupa serangkaian kejadian diskret.
    Hasil : peningkatan utilitas pemakaian bandwidth eksternal sejalan dengan penambahan jumlah pengguna, sehingga dapat mengetahui seberapa besar kebutuhan bandwidth yang cukup untuk membantu sejumlah pengguna dalam mengakses internet.
    Link : http://iirc.ipb.ac.id/jspui/handle/123456789/2163

    Sabtu, 05 Desember 2009

    BBC Memory Test

    Tes memori yang disediakan bbc.co.uk menjadi tugas berikutnya dari mata kuliah IMK, durasi kurang lebih 30 menit sambil buka2 kamus.net karena kurang lancar english-nya :D. Ternyata saia memang pelupa gan, ada beberapa tahapan test yang skornya rendah dibawah rata-rata, wkkkkkk..

    berikut printscreen hasilnya:

    Page 1



    Page 2

    Selasa, 01 Desember 2009

    Desain web yang kurang genah, merenah dan tuma'ninah

    Berhubung ada tugas IMK yang harus milih salah satu website dengan desain yang dianggap buruk, maka saya pilih situs berikut sebagai referensinya:

    www.msy.com.au



    Mungkin tujuan dari pengembang webnya adalah ingin terlihat lebih sederhana dan ringan, sehingga bisa cepat diakses. Namun sayangnya, warna mencolok diatas warna dasar putih sepertinya bukan kombinasi yang bagus bagi pengunjung, perbedaan warnanya yang kontras membuat orang tidak betah berlama-lama mengakses situs ini karena bisa membuat mata penat. Selain itu penggunaan font dan penempatan tulisannya kurang teratur, seperti terlihat pada kolom berita (MSY News) maupun pada halaman-halaman baru yang dibuka dengan memilih salah satu menunya. Pada saat meng-klik menu yang ada pada halaman utama, mesti membuka tab baru, ini membuat saya sebagai pengunjung merasa 'lelah' untuk berpindah-pindah tab.

    (bersambung, dah jam 4 coy.. waktunya balik)

    Saha Aing

    Foto Saya
    Aku suka terhadap hal-hal yang unik dan berbeda dari yang lain.

    Judul